Tentang

PENDIRIAN & PERESMIAN


Dari sebelah kiri: KH. M Agus Abdul Ghofur M,Pd, KH. Shoiman Luqmanul Hakim, Drs. KH. Mahrus Amin

14 Februari 1997
Drs. KH. Mahrus Amin dan Nyai Hj. Suniyati Abdul Manaf mendirikan Pondok Pesantren Madinatunnajah di Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

20 September 1997
KH. Shoiman Lukmanul Hakim salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor bersama Pendiri (Drs. KH. Mahrus Amin) dan Pimpinan (KH. M Agus Abdul Ghofur M,Pd) Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan meresmikan Pondok Pesantren Madinatunnajah.

SEJARAH


“Kami selalu berjuang agar seluruh santri Pondok Pesantren Madinatunnajah dapat menjadi Pemimpin yang siap untuk berjuang di masyarakat”

KH. M Agus Abdul Ghofur M,Pd
Pimpinan Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan

Tahun 1997-2001

Periode Perintisan dan Pembentukan Jati Diri

Cikal bakal pendirian Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan adalah dari sebuah Musholla Annajah yang dibangun oleh Drs. KH. Mahrus Amin di atas sebidang tanah wakaf dari Bapak H.Samah (alm), warga asli desa Jombang, pada awal tahun 90-an. Lalu musholla tersebut digunakan sebagai sarana ibadah dan pembinaan keagamaan bagi masyarakat setempat seperti majlis taklim dan Taman Pendidikan Al-Qur’an.

Seiring dengan perkembangan wilayah dan pertumbuhan pemukiman yang sangat cepat di wilayah Bintaro dan Bumi Serpong Damai (BSD), sedangkan letak geografis desa Jombang berada diantara kedua wilayah tersebut, maka diperlukan upaya peningkatan pendidikan dan pengetahuan dalam rangka mengimbangi kemajuan tersebut agar tidak terjadi kesenjangan sosial dan keterpurukan dalam moral spiritual.

Oleh karena itu, diputuskan oleh Drs. KH. Mahrus Amin dan Nyai Hj. Suniati Abdul Manaf untuk mendirikan Pondok Pesantren di tanah milik beliau yang lokasinya berseberangan dengan musholla. Tanah tersebut adalah hasil pembelian dari warga masyarakat setempat yang luasnya lebih kurang satu setengah hektar berupa kebun yang banyak ditumbuhi tanaman buah-buahan. Sebelum keputusan mendirikan pesantren, Drs. KH. Mahrus Amin menugaskan Al-Ustadz Komaruddin Akyas untuk mengelola kegiatan majlis ta’lim dan pendidikan Al-Qur’an sambil menyelesaikan kuliahnya di IAIN Jakarta.

Selanjutnya Drs. KH. Mahrus Amin mendapatkan dana bantuan dari donatur yang berasal dari Saudi Arabia yaitu Dr. Hamid Ahmad Al- Mathbaqani melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dipimpin oleh Syekh Bakur Khumais (mantan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia). Maka dibangunlah asrama dan masjid jami pada tahun 1995.

Dalam kondisi pembangunan yang belum rampung sepenuhnya, pada tanggal 14 Juli 1997 dimulailah tahun ajaran pertama 1997 – 1998. Saat itu ada tujuh santri yang mendaftar, salah satunya adalah putri bungsu Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin. Kemudian untuk meramaikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), didatangkan sebanyak dua puluh delapan santri dari Pondok Pesantren Annajah Kalimukti – Cirebon, mereka adalah anak- anak yatim dan tidak mampu, serta anak-anak korban tsunami di Flores – NTT tahun 1993.

Adapun tenaga pengajar saat itu berjumlah sepuluh orang dan dua orang tenaga kependidikan, serta lima orang karyawan. Aktifitas KBM dan kegiatan sehari-hari dilakukan hanya di sekitar asrama dan masjid.

Dengan dana iuran yang sangat terbatas, pesantren harus mencukupi kebutuhan sehari-hari, ditambah dengan terjadinya krisis moneter di Indonesia pada tahun 1998, maka sangat terasa berat beban yang dihadapi oleh pesantren. Namun semangat belajar dan tekad para santri tetap tinggi karenakeikhlasan dari pendiri, pimpinan dan para guru yang terus-menerus mendidik, mengasuh dan membina para santri selama dua puluh empat jam.

Diantara kegiatan para santri adalah :

  • Belajar di kelas
  • Kegiatan Ibadah
  • Pramuka
  • Belajar Pidato dan Ceramah
  • Seni Bela Diri
  • Olahraga
  • Kesenian dan Keterampilan
  • Pembinaan Dua Bahasa Asing (Arab dan Inggris)
  • Pelajaran Berorganisasi j. Tahfizhul Qur’an
  • Muhadharah (Latihan Pidato) dalam 3 bahasa (Indonesia, Arab, Inggri)
  • Komputer
  • Organisasi Santri Madinatunnajah (OSMN)
  • Organisasi Gerakan Pramuka Madinatunnajah (GPMN)
  • Amaliyah Tadris (Praktik Mengajar)
  • Praktik Pengabdian Masyarakat (PPM)
  • Bahtsul Masail (Kitab Kuning)
  • Safari Da’wah dan Rihlah Ruhiyyah

Dari usaha pembinaan para guru dan semangat tinggi para santri, menghasilkan prestasi yang memuaskan dalam bidang akademik yang diraih pada EBTANAS tahun 2000, dan berhasil masuk peringkat tiga besar se-KKM tingkat Tsanawiyah/SLTP di Kabupaten Tangerang. Dan prestasi tersebut dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya.

Sampai akhir fase Perintisan dan Pembentukan Jati Diri ini, kondisi santri yang membayar iuran adalah sebanyak 25 %, sedang yang dibebaskan dari iuran SPP sebanyak 75 %, adapun jumlah santri saat itu sebanyak seratus sembilan belas orang.

Tahun 2002-2006

Periode Perjuangan

Melihat kebutuhan sarana dan prasarana belajar yang mendesak, maka pesantren berusaha membangun asrama dan kelas dari hasil donasi pihak-pihak yang peduli kepada pesantren, khususnya penghimpunan dana zakat, infak dan shodaqoh pada setiap bulan Ramadhan. Maka dibangunlah tiga lokal kelas yang dinamakan gedung Mekkah.

Sementara kader-kader daerah terus berdatangan, seperti dari Nangroe Aceh Darussalam (NAD) bekerjasama dengan Persatuan Ulama Dayah Aceh. Kader lainnya adalah berasal dari Bali dan Lombok – NTB, bekerjasama dengan pesantren dan tokoh masyarakat setempat. Begitu juga kader-kader dari Ambon – Maluku yang merupakan korban konflik keagamaan berjumlah sembilan orang dengan rata-rata usia tingkat sekolah dasar, datang ke pesantren kami.

Selanjutnya, pesantren kedatangan anak-anak kader dari Wamena – Papua sebanyak sepuluh orang dengan rata-rata usia tingkat sekolah dasar, dan belum sepenuhnya bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren untuk memperbaiki karakter yang belum sesuai dengan syariat dan budaya, serta mengajarkan
berbahasa Indonesia terlebih dahulu.

Maka betapa sulitnya perjuangan pesantren untuk mendidik para santri kader daerah tersebut di atas, karena membutuhkan kesabaran, keuletan dan kerjakeras agar mereka bisa belajar dengan baik. Pesantren juga harus mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan mereka yang layak. Alhamdulillah pada tahun 2002 Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatanmendapat kunjungan guru dari Jakarta Japanesse School (JJS) Bintaro dan menyampaikan kesediaan mereka untuk membina santri dalam pelajaran bahasa Jepang dan keterampilan menjahit.

Untuk pertama kalinya pada tahun 2002, pesantren telah menamatkan angkatan pertama tingkat Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat (TMI) setingkat Madrasah Aliyah (MA) yang berjumlah lima belas santri. Selanjutnya, lulusan pertama tersebut dilibatkan dalam kegiatan mengajar, mengasuh dan membina adik-adik kelas mereka, dengan sistem Learning by Doing.
Menyadari akan pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), maka pesantren bertekad untuk meningkatkan lulusan pertama tersebut dengan cara belajar mandiri, karena keterbatasan biaya pendidikan.

Pesantren berusaha menghubungi kolega-kolega dari perseorangan dan anggota majlis ta’lim binaan KH. M. Agus Gofurur Rochim, M.Pd untuk menjadi sukarelawan dalam mengajar berbagai disiplin ilmu yang mereka kuasai, seperti kolega dari dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta, BPPT, para praktisi ekonomi dan bisnis, dan lain-lain.

Sumbangsih mereka dalam bidang pembinaan SDM para guru pesantren akhirnya menghasilkan nilai-nilai positif, sehingga berdampak langsung kepada para santri Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan. Keberhasilan tersebut dibuktikan dari hasil EBTANAS yang berhasil dipertahankan dengan menempati tiga besar.

Sampai akhir fase perjuangan ini, kondisi santri yang membayar iuran adalah sebanyak 30 %, sedang yang dibebaskan dari iuran SPP sebanyak 70 %, adapun jumlah santri saat itu sebanyak dua ratus sebelas orang.

Tahun 2007-2011

Periode Tantangan

Drs. KH. Mahrus Amin setelah mengetahui keberhasilan pembinaan para santri baik dari segi akademik maupun mental spiritual, maka beliau bertambah semangat untuk mendatangkan lebih banyak lagi kader-kader daerah yang telah tamat SMA (Madrasah Aliyah). Bahkan, beliau langsung datang ke daerah-daerah untuk menjemput mereka, seperti Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Sulawesi Barat, Lombok – NTB, Kupang – NTT.

Beliau memberikan penawaran kepada putra-putri daerah di seluruh Indonesia untuk belajar atau kuliah di Pondok Pesantren Darunnajah atau Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatandengan bebas biaya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren untuk menangani secara khusus pembelajaran mereka.

Jumlah santri yang tidak sebanding dengan jumlah asrama dan kelas yang ada, memaksa kami untuk segera membangun sarana prasarana yang layak untuk mereka. Alternatif yang diambil pimpinan dan dewan guru adalah dengan menjadikan aula yang belum selesai pembangunannya sebagai asrama. Untuk kegiatan belajar digunakanlah teras perpustakaan dan beranda-beranda masjid tanpa menggunaka meja dan kursi.

Tidak cukup sampai di situ, kebutuhan bahan konsumsipun tentunya menjadi bertambah. Untuk mengatasi hal tersebut pesantren melakukan usaha penggalian dana dari dalam, yaitu memproduksi tempe dan mengembangkan kantin, serta toko kebutuhan santri.

Namun dengan kondisi yang masih kurang, pesantren tidak berhenti untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu dengan mengirimkan lulusan TMI (Tarbiyatul Mu’allimin wal Muallimat al- Islamiyyah) untuk belajar di Universitas Al-Azhar – Kairo Mesir pada tahun 2008 sebanyak empat orang. Kemudian pada tahun 2009, pesantren mengirim lagi dua orang kader yang salah satunya adalah warga asli desa Jombang ke Universitas Al-Azhar – Kairo Mesir. Dan biaya pendidikan para kader tersebut semuanya ditanggung oleh pesantren. Adapun lulusan- lulusan lainnya mampu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri dan swasta.

Sampai akhir fase perjuangan ini, kondisi santri yang membayar iuran adalah sebanyak 40 %, sedang yang dibebaskan dari iuran SPP sebanyak 60 %, adapun jumlah santri saat itu sebanyak tiga ratus tujuh puluh tiga orang.

Tahun 2012-2016

Periode Transisi Konsolidasi

Bila dicermati mulai dari Periode Perintisan dan Pembentukan Jatidiri sampai dengan Periode Tantangan, pesantren mengalami progres dalam bidang akademik dan pembentukan karakter secara signifikan. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah santri dan diterima lulusannya di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negri.

Selain itu, diantara para lulusannya ada yang mampu memimpin pesantren, seperti Al-Ustadz Khatta Mubarak, S.Pd.I pada tahun 2010, mulai memimpin Pondok Pesantren Madinatunnajah di Natuna – Provinsi Kepualauan Riau. Pada tahun 2013, Al-Ustadz Suandi, S.Pd.I mulai memimpin Pondok Pesantren Madinatunnajah di Mamuju – Sulawesi Barat. Dan pada tahun 2015, pesantren mengirim dua orang kader untuk membantu Pondok Pesantren Madinatunnajah di Menanga – NTT.

Adapun sebaran wilayah geografi dan demografi asal usul santri sudah hampir merata dari seluruh Nusantara. Bahkan ada santri kami yang berasal dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Thailand Selatan dan Timor Leste. Mereka berasal dari keluargasederhana, seperti petani, nelayan, pedagang, buruh, tenaga honorer dan Pegawai Negri Sipil (PNS) golongan menengah

Seiring semakin dikenalnya Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan oleh masyarakat, maka minat para orang tua dan masyarakat semakin tinggi untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren kami. Kondisi tersebut tidak terlepas dari kekhawatiran para orang tua terhadap lingkungan yang mengancam moral putra-putri mereka. Diantara kekhawatiran tersebut adalah pengaruh narkoba, tawuran, pergaulan bebas dan lain-lain.

Ketika terjadi pesatnya era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang informasi, menjadi alasan yang semakin kuat untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren kami. Hal tersebut diketahui setelah diadakan wawancara dengan para orang tua tentang kondisi lingkungan sekitar rumah mereka yang semakin tidak baik dan kondusif untuk perkembangan karakter putra-putrinya. Sehingga paradigma pendidikan karakter para santri harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang informasi.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pesantren untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi para guru dalam mendidik dengan paradigma baru dan pendekatan yang lebih humanis. Caranya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan kompetensi guru bekerjasama dengan LSM dan relawan yang tidak berbayar. Pesantren juga mengadakan inhouse training maupun pendidikan lanjutan dengan cara mmbatu mencarikan beasiswa, mendatangkan nara sumber dari luar lingkungan pesantren dengan latar belakang entrepreneur, eksekutif pers swasta, maupun pemerintah. Materi yang dibahas antara lain budgeting, membuat laporan, IT, dan lain-lain. Juga aktif mengikuti pembinaan- pembinaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Selain pemateri dari dalam negeri ada beberapa yang hadir dari luar negeri seperti Syekh Hisyam Al-Kamil dan Syekh Zakaria Muhammad Marzuk dari Al- Azhar Mesir.

Para santripun terus dibina dalam beberapa kompetensi seperti organisasi, pidato bahsa Arab dan Inggris, pramuka, saka bhakti husada, ziarah wali songo, olah raga, seni bela diri dan lain sebagainya. Kejuaran dan prestasi yang pernah diraih antara lain di bidang pramuka, pidato, seni bela diri, cerdas cermat. Pada tahun 2018 salah satu santri Madrasah Ibtidaiyah meraih prestasi silver dalam bidang science nasional. Selain itu santri juga pernah terpilih menjadi anggota Paskibra Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Untuk bidang pramuka, para santri sudah banyak meraih prestasi yang diselenggarakan di beberapa pesantren serta mejadi utusan kontingen pramuka Kwartir Cabang Tangerang Selatan pada even- even pramuka tingkat nasional.

Tahun 2017-2021

Periode Lepas Landas

Menyadari akan pentingnya membangun masa depan dan mempertahankan keberadaan pesantren, maka pendiri Pondok Pesantren Madinatunnajah, Drs. KH. Mahrus Amin dan Nyai Hj. Suniyati Abdul Manaf memutuskan untuk mewakafkan seluruh tanah yang terletak di kelurahan Jombang kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan seluas 23.941 m2 dan seluruh bangunan di atasnya, untuk kepentingan ummat dan bangsa. Tujuannya agar tanah berikut bangunannya tidak dapat diwarisi oleh anak keturunannya, tetapi menjadi tanggungjawab seluruh ummat Islam.

Maka pada hari Selasa tanggal 14 Februari 2017 bertepatan dengan Peringatan 20 Tahun Madinatunnajah, diselenggarakan Ikrar Wakaf Tanah dan Bangunan Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Sekatan, yang ditandatangani langsung oleh :

Wakif

  • Drs. KH. Mahrus Amin, Wakif
  • Nyai Hj. Suniyati Abdul Manaf, Wakif

Dewan Nadzir

  • KH. Drs. Musthofa Hadi Chirzin
  • KH. Muhammad Agus Gofurur Rochim, M.Pd.
  • KH. Mardani Zuhri, MA.
  • Hj. Emah Maziyah, M.Pd.I
  • Hj. Nana Rusydianah, S.Th.I, MM.
  • Hj. Diah Nadiah, B.Sc

Saksi

  • KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalalm Gontor)
  • Prof. DR. KH. Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI Pusat)
  • Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (Panglima TNI)
  • H. M. Suryo Alam, MBA (Anggota DPR RI)
  • H. Lukman Hakim Saefuddin (Menteri Agama Republik Indonesia)
  • Hj. Airin Rachmi Diany, SH, MH.(Walikota Tangerang Selatan)
  • Drs. H. Zainal Arifin, MM., M.Si. (Kepala Kemenag Kota Tangerang Selatan)
  • KH. Saefuddin Arief, SH, MH. (Pimpinan Darunnajah 9 Pamulang)
  • Dr. KH. Sofwan Manaf, M.Si (Pimpinan Darunnajah Jakarta)
  • KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. (Pimpinan Darunnajah 2 Cipining)
  • Drs. KH. Mad Rodja Sukarta (Pimpinan Darul Muttaqin Parung)
  • Al-Ustadz Salim HM, S.Pd.I (Pelaksana Harian Pondok Pesantren Madinatunnajah Kalimukti Cirebon)
  • Al-Ustadz Muhammad Yazid Idris, S.Pd.I. (Pelaksana harian Pondok Pesantren Madinatunnajah Cilimus, Kuningan)
  • KH. Abdul Mujieb, S.Pd.I. (Pimpinan Pondok Pesantren Madinatunnajah Dukuh Semar Cirebon)
  • Drs. H. Al-Amin (Kepala KUA Ciputat, Tangerang Selatan)
  • HM. Mansyur (Lurah Jombang, Ciputat)
  • H. Andi Muhammad AR (Tokoh Alumni Gontor)
  • Al-Ustadz M. Sukron, S.Th.I, MM. (Wakil Guru Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan)
  • Bapak Rouf, SE. MM (Wakil Wali Santri Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan)
  • Al-Ustadz Syaefullah Syair, S.Pd.I, Lc. (Wakil Alumni Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan)

Kemudian pada hari Sabtu, tanggal 10 November 2018 diselengarakan Pengukuhan dan Pelantikan Pengurus Dewan Nadzir Yayasan Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan oleh Drs. KH. Mahrus Amin sebagai Pendiri dan Wakif, yaitu :

  • Prof. DR. KH. Husnan Bey Fannanie, MA : Ketua
  • Drs. KH. Musthofa Hadi Chirzin : Anggota
  • KH. M. Agus Gofurur Rochim, M.Pd : Anggota
  • KH. Mardhani Zuhri, MA : Anggota
  • Hj. Emah Maziyah, M.Pd.I : Anggota
  • Hj. Nana Rusydianah, S.Th.I, MM : Bendahara
  • Hj. Diah Nadiah, BA : Anggota
  • H. Muhammad Suryo Alam, MBA : Anggota
  • H. Hayedi Hasan, MM : Anggota
  • Hj. Ir. Lucy Meyke : Anggota
  • H. Muhammad Ismail, Msi : Anggota
  • Drs. H. Zaenul Arifin : Anggota
  • H. Andi Muhammad AR : Anggota
  • H. Ibrahim Barmansyah : Anggota
  • Syaefullah, S.Pd.I, Lc : Sekretaris

Tugas Dewan Nadzir secara umum adalah melaksanakan amanat Wakif agar Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan dapat terus berlangsung sampai akhir zaman. Secara khusus mempuyai tugas sebagai berikut :

  • Selama Wakif dan Pendiri masih ada, maka Dewan Nadzir menjalankan seluruh kbijakan dan ketetapannya.
  • Setelah Wakif dan Pendiri tidak ada, maka Dewan Nadzir memelihara dan menjaga nilai-nilai pesantren.
  • Memikirkan, mengambangkan dan memajukan seluruh program pesantren sesuai dengan Panca Jangka.

Alhamdulillah atas Rahmat Allah SWT Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan mendapat kemudahan dan bantuan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan berupa Sertifikat Tanah Wakaf yang berjumlah tiga belas bidang surat dengan total luas tanah 23.941 m2.

Sertifikat Tanah Wakaf diterima langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan dari Presiden Republik Indonesia dalam acara serah terima sertifikat tanah wakaf pada hari Jum’at tanggal 22 Februari 2019 bertempat di Masjid Raya Bani Umar Pondok

Oleh karena itu, pesantren terus berusaha untuk menertibkan administrasi dan manajemen pengelolaan pesantren agar sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku di Indonesia. Pada kesempatan ini pesantren mengajukan permohonan untuk mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Tangerang Selatan.

Pesantren terus berkomitmen untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial agar keberadaan Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan dapat dirasakan manfaat yang sebesar-besarnya

PRINSIP


Pendahuluan

Keberadaan Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan tidak terlepas dari cita-cita luhur Drs.KH. Mahrus Amin dan Nyai Hj. Suniyati Abdul Manaf untuk mendirikan seribu pesantren di Nusantara. Pada usia duapuluh tahun Drs. KH. Mahrus Amin sudah mendirikan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, tepatnya pada tahun 1974. Ketika mendapat kesempatan untuk berdoa di dalam Ka’bah, beliau memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemampuan dan kekuatan untuk mendirikan seribu pesantren sebagaimana Allah SWT memberikan kekuatan dan kemampuan kepada Iskandar Dzulqornain (Alexander The Great), yang kekuasaannya meliputi Timur dan Barat.

Maka, beliau membangun pesantren melalui dua sayap, yaitu Pondok Pesantren Darunnajah yang berlambang Ka’bah, sebagai simbol perjuangan Rosulullah SAW di Mekkah, dan Pondok Pesantren Madinatunnajah yang berlambang Masjid Nabawi, sebagai simbol perjuangan Rosulullah SAW di Kota Madinah.

Sejak menyelesaikan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1960, dan melanjutkan pendidikannya di IAIN Jakarta, beliau selalu konsisten dengan cita-cita mendirikan seribu pesantren sampai saat ini. Sesuai dengan filosofi yang beliau pegang teguh, yaitu filosofi pohon pisang. Pohon pisang apabila tumbuh maka dia akan beranak terus menerus. Demikian pula pesantren, akan melahirkan pesantren-pesantren baru. Hal tersebut sesuai dengan keberadaan pesantren-pesantrenyang beliau rintis dan dirikan itu telah mencapai lebih dari seratus pesantren, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Filosofi lainnya adalah menjadi bintang bukan menjadi lilin. Lilin itu dapat menerangi tetapi akan cepat habis terbakar, sedangkan bintang terus bersinar dan menyinari. Demikian pula hasil perjuangan beliau, telah banyak dirasakan manfaatnya bagi ummat dan bangsa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Oleh kaarena itu, beliau banyak mendapatkan pengakuan dan penghargaan sebagai tokoh pendidikan Islam dan perintis pondok pesantren.

Dengan tersebarnya pondok pesantren yang beliau rintis dan dirikan, dan dilanjutkan cita-citanya oleh para kader, maka diyakini akan tercapai dan terwujud seribu pesantren di Nusantara melalui Darunnajah dan Madinatunnajah.

Visi, Misi dan Motto

Visi

  • Mendidik dan menyiapkan kader-kader pemimpin ummat dan bangsa yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, kreatif, terampil dan ulet.
  • Versi MUKER : Mendidik dan menyiapkan kader-kader pemimpin ummat dan bangsa yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berpengetahuan luas, terampil dan ulet.

Misi

  • Menyelenggarakan pendidikan dengan sistem pesantren, yang bertujuan untuk menyiapkan kader pemimpin ummat dan bangsa.
  • Mendidik para santri agar memiliki iman dan takwa, akhlak mulia, badan sehat, dan pengetahuan yang luas.
  • Membina para santri agar kreatif, terampil dan ulet.
  • Menyiapkan santri yang siap untuk berjuang dan berguna di masyarakat.

Motto

  • Berakhlak Mulia
  • Berwawasam Cendekia
  • Berbudaya Madania
Landasan Hidup Di Pesantren

Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan dalam menjalankan kegiatan pendidikan dan pembinaan para santri berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai rujukan utama. Kemudian dikembangkan enam pilar sebagai landasan hidup dan kehidupan di dalam pesantren, yaitu :

Pancasila

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Panca Jiwa

  1. Jiwa Keikhlasan
  2. Jiwa Kesederhanaan
  3. Jiwa Kemandirian
  4. Jiwa Ukhwah Islamiyah
  5. Jiwa Kebebasan

Panca Bina

  1. Bertaqwa Kepada Allah SWT
  2. Berkahlak Mulia
  3. Berbadan Sehat
  4. Berpengetahuan luas
  5. Kreatif dan Terampil

Panca Dharma

  1. Ibadah
  2. Ilmu yang Berguna di Masyarakat
  3. Kader Ummat
  4. Dakwah Islamiyah
  5. Cinta Tanah Air dan Berwawasan Nusantara

Panca Jangka

  1. Peningkatan Mutu Pendidikan
  2. Pembangunan Fisik (Sarana Prasarana)
  3. Penggalian Dana
  4. Pengkaderan
  5. Pengabdian Masyarakat

Catur Cinta

  1. Cinta kepada Allah SWT
  2. Cinta kepada Rosulullah SAW
  3. Cinta untuk Akhirat
  4. Cinta kepada Orang-Orang Sholih
Tujuan

Adapun tujuan didirikannya Pondok Pesantren Madinatunnajah Tangerang Selatan adalah :

  • Membantu masyarakat untuk mandapatkan pendidikan dan pembentukan karakter bagi putra-putrinya, sesuai dengan tujuan negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
  • Memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa yang tidak mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
  • Membina kehidupan masyarakat yang religius dan berperadaban.
Makna Logo Pesantren

Komponen

  • Menara Gerbang Kota Madinah
  • Mihrab Masjid dengan tiga lengkung
  • Al Quran terbuka
  • Sepasang tunas dengan masing-masing lima gerigi
  • Tulisan Madinatunnajah
  • Bingkai berbentuk bulan sabit

Warna Dasar berwarna hijau daun

  • Mihrab dan tulisan berwarna putih
  • Menara Gerbang berwarna hitam
  • Tunas dan bingkai bulan sabit berwarna kuning

Makna

  • Kota Madinah melambangkan Kota Ilmu
  • Mihrab melambangkan pembinaan kader imam atau pemimpin umat
  • Tiga lengkung mihrab melambangkan kesatuan Islam, Iman dan Ihsan
  • Al Quran melambangkan dasar utama Islam dan sumber Ilmu
  • Sepasang tunas melambangkan pengkaderan baik putera maupun puteri
  • Lima gerigi pada tunas melambangkan prinsip-prinsip pendidikan Madinatunnajah yaitu Pancajiwa, Pancabina, Pancadharma dan Pancajangka
  • Bulan Sabit melambangkan perjuanagan umat Islam
  • Warna putih melambangkan kesucian dan keikhlasan yang melandasi segala amal usaha
  • Warna hitam melambangkan kekokohan dan keabadian
  • Warna kuning melambangkan semangat
  • Warna hijau melambangkan kedamaian dan keberkahan